Download

17 Fakta Sejarah Perkembangan Sepak Bola di Indonesia http://tny.cz/d6ddd692 Kontroversi Supersemar http://tny.cz/8cadc54f

Banner Ad

Total Tayangan Laman

TopMenu

Label

Category

Open Cbox

Mau buat buku tamu ini ?
Klik di sini
Diberdayakan oleh Blogger.

Translator

Followers

Kamis, 07 Februari 2013

Peristiwa G 30 S/PKI dan cara penanggulangannya


1.  Keadaan Politik sebelum terjadinya peristiwa G 30 S/PKI
Dicannagan Nasakom oleh pemerintah setelah Dekrit Presiden 5 Juli 1959, membuat paham komunis tumbuh subur. Pengaruh PKI dalam bidang politik pun semakin luas, khususnya dalam kebijakan pemerintah, baik kebijakan politik dalam negeri maupun luar negeri/ pengaruh politik PKI pada masa Demokrasi Terpimpin antara lain sebagai berikut :
a.    Penempatan golongan komunis melalui konsep Nasakom (Nasionalisasi, Agama dan Komunis)
b.    Semua organisasi yang bersifat anti komunis dibubarkan dan dituduh sebagai anti pemerintah
c.    Dalam politik luar negeri, pemerintah membentuk Poros Jakarta – PhnomPhenh – Hanoi – Beijing – Pyongyang. Poros ini dibentuk pada Agustus tahunn 1965
d.    Indonesia melaksanakan politik mercusuar, yaitu politik yang hanya mengejar kemegahan di tengah-tengah pergaulan antarbangsa
e.    PKI berusaha menghancurkan lawan-lawan politiknya. Dengan kelicikannya, PKI berhasil menghasut presiden Soekarno untuk mmbubarkan partai Murba, Masyumi, dan PSI

f.    Membagi kekuataan politik dunia menjadi Nefo (New Emerging Force) dan Oldefo (Old Established Forces). Negara-negara yang sedang berkembang yang anti terhadap imperialisme dan kolonialisme termasuk ke dalam Nefo. Sedangkan negara-negara imperialis, kolonialis, dan kapitalis termasuk ke dalam Oldefo
g.    Sejak tanggal 17 September 1963, melakukan konfrontasi dengan Malaysia, yang disebabkan oleh adanya anggapan bahwa Malaysia adalah negara proyek neokolonialisme (Nekolim) Inggris yang dapat membahayakan revolusi Indonesia
h.    Indonesia keluar dari PBB pada tanggal 7 Januari 1965, hal ini disebabkan karena dipilihnya Malaysia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB
2.  Keadaan Ekonomi sebelum terjadinya G 30 S/PKI
Pada masa Demokrasi Terpimpin, Indonesia mengalami krisis konomi yang amat parah. Untuk mengatasi krisis ini, pada tanggal 24 Agustus 1959, pemerintah melakukan devaluasi uang. Dengan devaluasi itu, uang kertas yang mempunyai nominal Rp 500,00 tinggal menjadi Rp 50,00 dan uang bernilai Rp 1000,00 dihapuskan. Selain melakukan devaluasi uang, pemerintah juga melakukan pembekuan semua simpanan yang melebihi Rp 25.000,00. Tetapi, tindakan pemerintah ini tidak dapat menghentikna kemerosotan ekonomi Indonesia. Akibat kemerosotan ekonomi yang semakin hari semakin dalam, pada tanggal 28 Maret 1963 pemerintah mengeluarkan landasan baru bagi perbaikan ekonomi secara menyeluruh yang disebut dengan “Deklarasi Ekonomi” atau “Dekon”. Konsepsi “Dekon” ini justru berakibat timbulnya stagnasi (kemandegan) ekonomi Indonesia.
3.  Keadaan Sosial sebelum terjadinya peristiwa G 30 S/PKI
Keadaan sosial sebelum terjadi peristiwa G 30 S/PKI ditandai dengan munculnya aksi sepihak yang dilancarkan oleh PKI dan pendukungnya. Aksi sepihak ini terjadi di Bali, Jawa dan Sumatera Utara. Dalam aksi sepihak ini para petani dan buruh perkebunan yang dibantu oleh para kader PKI dan para pendukungnya memanfaatkan kondisi ekonomi, sosial, dan politik pada masa Demokrasi Terpimpin membuat pengaruh PKI menjadi semakin luas.
4.  Keadaan Budaya sebelum terjadinya peristiwa G 30 S/PKI
Pada masa Demokrasi Terpimpin, kegiatan-kegiatan seni budaya diatur oleh pemerintah. Kebudayaan-kebudayaan yang berbau Barat dianggap kebudayaan Nekolim (Neo Kolonialisme) dan dilarang. Dalam usaha mempropagandakan tujuannya, PKI membentuk LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) dengan tokohnya juga mengecam penertiban buku-buku, majalah, dan film yang dianggap berbau Barat. Alasdannya buku-buku, majalah, dan film yang berbau Barat tidak sesuai dengan kepribadian bangsa Indonesia. Untuk mengimbangi kegiatan PKI di bidang budaya, sekelompok budayawan dan seniman pada tanggal 17 Agustus 1963 membentuk Manifesto Kebudayaan (Manikebu) dan Badan Pendukung Surkanoisme (BPS). Tokoh-tokoh Manikebu, antara lain H.B. Jassin,. Tetapi karena hasutan PKI, Manikebu ini akhirnya dilarang oleh pemerintah. Manikebu dan PBS ini dituduh dibiayai oleh CIA (Badan Intelegen Amerika Serikat).
5.  Peristiwa G 30 S/PKI dan Cara penanggulangannya
a.   Masa prolog (Persiapan) G 30 S/PKI
Beberapa persiapan telah dilakukan oleh PKI sebelum melakukan pemberontakan. Masa persiapan tersebut terutama mulai dilaksanakan sejak D.N. Aidit dipilih menjadi pemimpin PKI tahun 1951. Persiapan yang dilakukan oleh PKI itu antara lain melakukan penyusupan ke partai-partai besar, organisasi tani, dan badan-badan lain. Serta melakukan aksi fitnah terhadap TNI-AD dengan melontarkan isi adanya Dewan Jenderal. Isu ini dilontarkan pada bulan Mei 1965 berdasarkan Dokumen Gilchrist yang diungkapkan PKI. Dewan Jenderal oleh PKI ditafsirkan sebagai badan yang terdiri atas para perwira tinggi Angkatan Darat, yang bertugas mempersiapkan perebutan kekuasaan. Untuk menandingi Dewan Jenderal, PKI membentuk Dewan Revolusi yang diketahui oleh Letkol Untung Sutopo.
b.  Pelaksanaan Pemberontakan G 30 S/PKI
Dalam melaksanakan pemberontakannya, PKI melakukan tindakan-tindakan :
1)    Pada tanggal 1 Oktober 1965 sekitar pukul 01.30, Letkol Inf. Untung memberikan perintah pelaksanaan gerakan. Sasaran gerakan adalah para perwira tinggi Angkatan Darat. Kesatuan-kesatuan bersenjata yang bertugas dibagi menjadi 3 pasukan, yaitu :
a)    Pasukan Pasopati dipimpin oleh Lettu If. Dul Arief dengan tugas menculik tujuh perwira tinggi Angkatan Darat
b)   Pasukan Bimasakti dipimpin oleh Kapten Suradi yang bertugas menguasai kota Jakarta
c)    Pasukan Gatotkaca dipimpin oleh Mayor Udara Gatot Sukasno berfungsi sebagai pasukan cadangan yang berkedudukan di Lubang Buaya
2)   Pada tanggal 1 Oktober 1965, sekitar pukul 03.00 dini hari, PKI menculik dan membunuh perwira-perwira tinggi Angkatan Darat, mereka adalah :
a)    Letnan Jenderal Ahmad Yani (Menteri/Panglima Angkatan Darat)
b)   Mayor Jenderal S. Parman (Asisten I Men/Pangad)
c)    Mayor Jenderal R. Suprapto (Deputi II Men/Pangad)
d)   Mayor Jenderal Mas Tirtodarmo Haryono (Deputi III Men/Pangad)
e)    Brigadir Jenderal Donald Kacus Panjaitan (Asisten IV Men/Pangad)
f)    Brigadir Jenderal Sutoyo Siswomiharjo (Inspktur Kehakiman/Oditu Jenderal TNI-AD)
g)    Letnan Satu Piere Andreas Tendean (Ajudan Menjo Hankam/Kepala Staf Angkatan Bersenjata)
h)   Brigadir Polisi Karel Satsuit Tubun (Pengawal rumah wakil PMII Dr. J Leimena
3)   Menguasai dua buah sarana komunikasi yaitu studio RRI Pusat di Jalan Merdeka Barat dengan Kantor Telekomunikasi di Jalan Merdeka Selatan
4)   Menyiarkan pengumuman lewat RRI pada tanggal 1 Oktober 1965 tentang :
a)    Adanya Dewan Jenderal yang akan merebut kekuasaan
b)   Dekrit tentang pembentukan Dewan Revolusi di pusat dan di daerah serta pendemisioneran Kabinet Dwikora
c)    Dua buah keputusan Dewan Revolusi, yaitu :
-      Susunan Dewan Revolusi yang beranggotakan 45 orang dengan ketuanya Letnan Kolonel Untung Sutopo
-      Penghapusan pangkat jenderal. Pangkat tertinggi dalam TNI adalah Letnan Kolonel
Di Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, PKI melakukan pembunuhan terhadap Kolonel Katamso (komandan korem 072/Yogyakarta) dan Letnan Kolonel Sugiyono (kepala staf korem 072/Yogyakarta). Mereka diculik PKI pada sore hari 1 Oktober 1965 oleh pemberontak PKI dari Batalion “L” di Desa Keuntungan. Kedua perwira ini dibunuh karena secara tegas menolak berhubungan dengan Dewan Revolusi.
c.    Penumpasan G 30 S/PKI
1)    Tanggal 1 Oktober 1965
Operasi penumpasan G 30 S/PKI dimulai sejak tanggal 1 Oktober 1965 sore hari. Gedung RRI pusat dan Kantor Pusat Telekomunikasi dapat direbut kembali tanpa pertumpahan darah oleh satuan RPKAD di bawah pimpinan Kolonel Sarwo Edhi Wibowo, pasukan Para Kujang/328 Siliwangi, dan dibantu pasukan kavaleri. Setelah diketahui bahwa basis G 30 S/PKI berada di sekitar Halim Perdana Kusuma, sasaran diarahkan ke sana.
2)   Tanggal 2 Oktober 1965
Pada tanggal 2 Oktober 1965, Halim Perdana Kusuma diserang oleh satuan RPKAD di bawah komando Kolonel Sarwo Edhi Wibowo atas perintah Mayjen Soeharto. Pada pukul 12.00 siang, seluruh tempat itu berhasil dikuasai oleh TNI-AD.
3)   Tanggal 3 Oktober 1965
Pada hari Minggu tanggal 3 Oktober 1965, pasukan RPKAD yang dipimpin oleh Mayor C.I Santoso berhasil menguasai daerah Lubang Buaya. Setelah usaha pencarian perwira TNI-AD dipergiat dan atas petunjuk Kopral Satu Polisi Sukirman yang menjadi tawanan G 30 S/PKI, tetapi berhasil melarikan diri didapat keterangan bahwa para perwira TNI-AD tersebut dibawa ke Lubang Buaya. Karena daerah tersebut diselidiki secara intensif, akhirnya pada tanggal 3 Oktober 1965 ditemukan tempat para perwira yang diculik dan dibunuh tersebut. Mayat para perwira itu dimasukkan ke dalam sebuah sumur yang bergaris tengah 3/4 meter dengan kedalaman kira-kira 12 meter, yang kemudian dikenal dengan nama Sumur Lubang Buaya.
4)   Tanggal 4 Oktober 1965
Pada tanggal 4 Oktober, penggalian Sumur Lubang Buaya dilanjutkan kembali (karena ditunda pada tanggal 13 Oktober pukul 17.00 WIB hingga keesokan hari) yang diteruskan oleh pasukan Para Amfibi KKO-AL dengan disaksikan pemimpin sementara TNI-AD Mayjen Soeharto. Jenazah para perwira setelah dapat diangkat dari sumur tua tersebut terlihat adanya kerusakan fisik yang sedemikian rupa. Hal inilah yang menjadi saksi bisu bagi bangsa Indonesia betapa kejamnya siksaan yang mereka alami sebelum wafat.
5)   Tanggal 5 Oktober 1965
Pada tanggal 5 Oktober, jenazah para perwira TNI-AD tersebut dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata yang sebelumnya disemayamkan di Markas Besar Angkatan Darat.
6)   Tanggal 6 Oktober 1965
Pada tanggal 6 Oktober, dengan surat keputusan pemerintah yang diambil dalam Sidang Kabinet Dwikora, para perwira TNI-AD tersebut ditetapkan sebagai Pahlawan Revolusi.

3 komentar:

  1. THANKS BANGETTTT ^^ sangat membantu.

    BalasHapus
  2. Makasih tugas saya jadi selesai :)

    BalasHapus
  3. blognya keren gan, ada kontak yg bisa saya hubungin gak? ada yang mau ditanya

    BalasHapus